Ketum Imani: Dakwah Era Milenial Harus Merambah Media Sosial

 
Ketum Imani: Dakwah Era Milenial Harus Merambah Media Sosial

Foto: Seminar Dai dan Mubaligh Imani di Ponpes Nurul Ibad, Kamis (5/12)

LADUNI.ID, Jakarta - Ikatan Mubaligh Nurul Ibad Indonesia atau Imani menggelar 'Seminar Dakwah di Era Milenial melalui Media Sosial'. Kegiatan dipusatkan di Pondok Pesantren Nurul  Ibad, Lubang Buaya, Jakarta.

KH Ibnu Mulkan, Ketua umum Imani, mengatakan para dai dan mubaligh yang terkumpul di Imani harus bisa menghadapi tantangan zaman.

"Juga bisa berdakwah dengan cara offline maupun online," ucap Kiai Mulkan kepada laduni.id, Jumat (6/12).

Menurut pria yang juga menjadi Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Timur ini, menegaskan, sebagai muballigh mesti mampu menjadi penentram umat, sehingga dakwah rahmatan lil 'alamin dapat terwujud.

"Dengan seminar ini semoga para dai dan muballigh ke depanya bisa menyampaikan dakwah yang rahmatan lilalamin dengan kretifitas yang bisa diterima di era sekarang yang hampir semua umat Islam memilih  media sosial sebagai cara belajar agama," kata dia.

Masih menurut kiai Mulkan, setelah diadakan seminar ini, Imani membentuk tim media yang disesuaikan dengan kemampuan dan bidang masing-masing.

"Merekalah yang melanjutkan pelajaran-pelajaran khusus demi meningkatkan kualitas media, fasilitas dan sebagainya. Sehingga para ustadz dan pendakwah bisa segera mengisi konten di media sosial dari Instagram, Facebook, Youtube dan sebagaimana di bawah portal Imani," jelasnya.

Sementara, Khadijah Alqi al-Makkiyyah pemateri seminar tersebut memberikan  contoh sejumlah dai yang demikian eksis di media sosial.

Menurut dia, dai yang eksis di media sosial pengikutnya jutaan. Karena kata dia, para penikmat tayangan video di sejumlah chanel media sosial. Padahal yang bersangkutan bukan termasuk dai Ahlusunnah Wal Jamaah atau Aswaja.

"Saat ini memang sudah masuk era serba online. Orang serba mudah mengakses sejumlah tayangan lewat layanan smartphone," ungkapnya.

Menurut dia lagi, penggunaan gawai saat ini demikian bisa memenuhi kebutuhan harian lewat telepon pintarnya.

"Seperti keperluan belanja peralatan rumah sampai ngaji pun online," tegasnya.

Oleh karena itu, dirinya menyampaikan sebagai mubaligh dan pendakwah Aswaja an-Nahdiyah harus bisa mengisi dan menjadi bagian media tersebut.

"Prinsip media Islam sendiri dibagi dua yakni formal  dan non formal. Dan ada beberapa  dasar juga yang harus dipelajari dari tata cara berdakwah di media sosial ini," jelasnya.

Sebab itu, lanjut dia, yang hendaknya disiapkan adalah tim yang solid dengan segala pirantinya. Dari mulai kalangan yang memiliki kemampuan pencarian di internet, redaktur, desain grafis, sampai  content creatornya harus disiapkan.

"Sehingga konten yang kita posting bisa dinikmati para natizen dengan baik dan trending," kata dia.

Senada dengan pemateri seminar tersebut, Ketua pelaksana, Imam Ghozalie menyebutkan, Imani akan menyiapkan website sebagai dakwah digital.

"Untuk kontributor penulisan di website Imani Indonesia juga berkolaborasi dengan pesantren Aswaja an Nahdiyah terutama di daerah Jakarta ini," ucap dia.

Ia berharap dengan adanya Imani mampu menampilkan konten Islam sejuk di era milenial.

"Dengan dibantu pengembangan lewat media sosial nantinya bisa meningkatkan dakwah yang rahmatalil alaimin di Indonesia, khususya di Jakarta," pungkasnya. (Rahman Jaya/srf)