Biografi KH. Mas Subadar

 
Biografi KH. Mas Subadar

Daftar Isi Profil KH. Mas Subadar

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Mas Subadar lahir pada 1942 di desa Besuk, Kejayan, Pasuruan. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Subadar dan Hj. Maimunah.

Pada usia 3 bulan (1942), ia telah yatim karena ditinggal wafat ayahanda, KH. Subadar. Selanjutnya diasuh oleh ibundanya Hj Maimunah secara mandiri untuk mengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum.

Wafat

KH. Mas Subadar wafat pada Sabtu malam, 30 Juli 2016. Rois Syuriah PBNU itu meninggal di kediamannya usai menjalani perawatan di Surabaya. Jenazah beliau dikebumikan di pemakaman keluarga di Desa Sladi, Kejayan Kejayan sekitar 1 KM dari pesantren yang diasuhnya.

Keluarga

KH. Mas Subadar melepas masa lajangnya dengn menikahi Aisyah pada tahun 1969.

Pendidikan

KH. Mas Subadar memulai pendidikannya dengan belajar kepada kakak-kakaknya seperti KH. Ali Murtadlo dan KH. Ahmad di Pondok Pesantren Besuk, Pasuruan. Setelah selesai belajar bersama kakaknya, beliau kembali melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pesantren Lirboyo yang diasuh KH. Mahrus Aly dan KH. Idris Marzuki. Di Pesantren Lirboyo, Kediri, beliau memperdalam ilmu seperti nahwu, sharaf, balaghah dan lain-lain.

Setelah selesai belajar di Lirboyo, beliau kembali melanjutkan belajarnya di beberapa ulama yang ada di sekitar Pasuruan selama 6 tahun atau tepatnya sejak tahun 1961, ia belajar secara mandiri dengan menelaah kitab-kitab klasik (kuning) dan mengkaji kitab-kitab klasik yang ada di perpustakaan Pondok Pesantren Roudhotul Ulum.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada tahun 1967  KH. Mas Subadar memulai berkiprah NU. Mula-mula ia aktif di IPNU, dua tahun kemudian namanya langsung mencuat sebagai ketua GP Anshor Pasuruan. Aktivitasnya di organisasi sempat terhenti setelah menikahi Aisyah pada tahun 1969. Baru pada kisaran 1976, kembali terjun dalam kegiatan organisasi dan sekaligus mengemudikan kepemimpinan Pesantren Raudhotul Ulum.

Pada tahun 1980, ia terpilih sebagai Rois Syuri’ah NU Cabang Pasuruan dan kemudian menjabat sebagai Wakil Rais Syuri’ah NU Jawa Timur. Selain itu, beliau juga terpilih menjadi wakil Ketua Majelis Syariah Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP. 

KH. Mas Subadar juga merupakan sosok Kiai kharismatik yang sangat dikenal di kalangan jam’iyyah Nadliyin. Beliau sering ditunjuk sebagai juru bicara dalam forum besar para kiai. Sikapnya yang teguh dan senantiasa berpegang teguh pada koridor kajian fiqh klasik itulah yang menyebabkan sering dilibatkan dalam bahstul masa’il  yang diselenggarakan NU.

Selain itu, tutur katanya juga halus, argumentatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakat yang dihadapi. Ini membuat masyarakat di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur sering mendatangi pengajiannya.