Biografi KH. Abdul Muchit Muzadi

 
Biografi KH. Abdul Muchit Muzadi

Daftar Isi Profil KH. Abdul Muchit Muzadi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  5. Pengalaman Kemiliteran
  6. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Abdul Muchit Muzadi Lahir pada 19 Jumadil Awal 1344 H  atau 4 Desember 1925 M di Bangilan, Tuban. Beliau merupakan putra dari Muzadi, seorang pedagang tembakau sukses dengan Rumyati.

Wafat

KH. Abdul Muchit Muzadi wafat saat berusia 90 tahun, pada Minggu 6 September 2015, pada pukul 05.00 WIB, di Rumah Sakit Persada, Kota Malang, Jawa Timur. Jenazahnya dikebumikan di TPU Tegalboto Jalan Kalimantan Jember

Pendidikan

KH. Abdul Muchit Muzadi memulai pendidikannya dengan belajar di Pesantren Tuban, setelah selesai belajar di Tuban, beliau kembali melanjutkan belajar kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng Jombang.Pada tahun 1941, saat usianya masih 16 tahun, ia telah menjadi anggota NU melalui pendaftaran di Ranting NU Tebuireng. Di Tebuireng, ia juga belajar berorganisasi. Di sana, ia bertemu beberapa santri terkenal dari daerah lain, diantaranya KH. Ahmad Shiddiq.

Setelah selesai belajar di Tebuireng, ia kembali ke kampung halamannya di Tuban dengan mendirikan Madrasah Salafiyah (1946). Walaupun sebagai guru, ia juga ikut berjuang melawan penjajah dengan menjadi anggota Lasykar.

Pada tahun 1952, Kiai Muchit mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI), selanjutnya pada tahun 1954 juga mendirikan Madrasah Muallimin Nahdlatul Ulama. Setelah enam tahun kemudian, ia menjadi pegawai di IAIN Sunan Kalijogo Yogyakarta (1961). Dari Yogyakarta, ia ditugaskan di IAIN Malang pada tahun 1963 dan tahun itulah ia merintis SMP NU. Begitu juga ketika menjadi Pembantu Dekan II di IAIN Sunan Ampel Jember.

Penugasan ke IAIN Sunan Ampel Jember membuatnya bertemu lagi dengan sahabat seperguruannya yang menjadi pengasuh pesantren di Jember, yaitu KH. Ahmad Shiddiq

Ketika sahabatnya menjadi Rais Aam Syuriyah PBNU, ia membuat rumusan konseptual mengenai Aswaja, menuntaskan hubungan Islam dengan negara, dan mencari rumusan pembaruan pemikiran Islam, serta strategi pengembangan masyarakat NU, sehingga ia menjadi sekretaris pribadi KH. Ahmad Shiddiq.

Sukses duet dengan KH. Ahmad Shiddiq dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam memimpin NU tidak bisa lepas dari pikiran kreatif KH. Muchit Muzadi yang menjadi “penasehat” pemikiran KH. Ahmad Shiddiq.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Abdul Muchit Muzadi merupakan pejuang organisasi yang luar biasa. Sejak pindah dari Tuban ke sejumlah daerah, dia terus berjuang bersama NU.

Di NU, KH. Abdul Muchith Muzadi pernah menjabat sebagai Sekretaris GP Ansor Jogjakarta (1961-1962), Sekretaris GP Ansor Kabupaten Malang dan Sekretaris PCNU Jember (1968-1975). Dia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PCNU Jember (1976-1980), pengurus LP Ma’arif PWNU Jatim (1980-1985), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim (1992-1995), Rais Syuriyah PBNU (1994-2004), dan Mustasyar PBNU sejak Muktamar NU ke-31 Boyolali (2004).

Ketika NU masih bersama Masyumi, Kiai Muchith juga ikut berjuang bersama para ulama lainnya di Masyumi. Di situ dia pernah menjabat sebagai Komandan Kompi Hizbullah yang saat itu juga sebagai anggota Badan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tuban (1947-1951). Pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pemerintah Daerah (DPD), kemudian menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban (1959-1961).

Di organisasi NU, keterlibatan Mbah Muchit sangat besar dalam perumusan konsep menjelang Muktamar di Situbondo tahun 1984 yang kemudian memutuskan khittah jam’iyyah NU, kembalinya NU ke kancah perjuangan, meninggalkan dunia politik praktis. Bersama KH. Ahmad Shiddiq, Rais Aam Syuriyah PBNU (1984-1989), Kiai Muchit sering disebut sebagai sosok yang mewarnai pemikiran dan gagasan KH. Ahmad Shiddiq.

Pengalaman Kemiliteran

KH. Abdul Muchit Muzadi pernah bergabung dengan Hizbullah ketika laskar itu mendirikan cabangnya di daerah Bangilan. Namun dia tidak bisa mengikuti latihan perwira Hizbullah angkatan pertama di Cibarusa, karena tidak diizinkan orang tuanya. Ia bergabung dengan Hizbullah ketika para alumni pendidikan angkatan pertama itu membentuk Hizbullah di daerah masing-masing. Dirinya bergabung ke dalam Hizbullah setelah setahun berada dalam Suisintai. Di Hizbullah, selain dilatih kemiliteran, ia juga diberi bekal pendidikan kerohanian oleh para ulama.

Kiai Muchit, lantas ditunjuk sebagai Komandan Kompi Hizbullah, tatakala tiga bagian Hizbullah (Bangilan, Senori dan Singgahan) disederhanakan menjadi satu Kompi Bangilan. Sementara markas utama Batalyon masih tetap di Bojonegoro, dengan Komandan Batalyon Kapten H Romli.

Dengan membawahi 60 orang anak buah, Abdul Muchit bermarkas di rumah Basyar, salah seorang pamannya. Setiap hari Abdul Muchith harus menjalani kehidupan dengan disiplin tentara. Setiap pagi berdinas di markas mengawasi anak buah. Usai Dzuhur dia pulang untuk mengajar di madrasah yang didirikannya bersama masyarakat. Ketika hari mula beranjak malam dengan menenteng pistol di pinggang dirinya jalan-jalan ke stasiun untuk melihat situasi. Itu sudah menjadi salah satu kebiasaannya. termasuk ketika mengajar di sekolah.

Abdul Muchit pun pernah turut bergabung dengan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia), ketika masa-masa awal kemerdekaan tahun 1945. Juga pernah bergabung dengan pasukan Mujahidin. Beberapa kali dirinya ikut bergerilya melawan penjajah Belanda di wilayah Teritorial Troep Komando Distrik Militer Tuban.

Namun ketika ada rasionalisasi Hizbullah ke dalam TNI, 1947, Abdul Muchit tidak masuk ke dalamnya. Karena dia merasa, jiwanya memang bukan jiwa tentara. Dirinya juga pernah masuk TKR, tapi hanya betah selama tiga hari. Ia memilih pulang, karena merasa tidak mempunyai watak sebagai tentara. “Saya memilih kembali sebagai guru,” ujarnya.

Karya-Karya

Selain aktif dalam pergerakan , pendidikan dan mengajar beiau juga aktif menilis untuk menuangkan buah pikirannya dalam lembaran – lembaran yang sebagai pengabadian pemikiran beliau untuk masa yang akan datang dan akan selalu terkenang sampai kapan pun . Berikut adalah karangan beliau :

  1. Buku Risalah Fiqh Wanita oleh AlـMaarif Bandung (1979). Buku ini kemudian diterbitkan ulang oleh Khalista Surabaya, 2005-­2006.
  2. Buku berjudul : NU dan Fiqh Kontekstual oleh LKPSM NU Yogyakarta (1994).
  3. Buku Pedoman bagi Kaum Muslimin Indonesia dalam Hidup Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara yang diterbitkan BP 7 Dati II Jember.
  4. Buku Apa dan Bagaimana NU yang diterbitkan oleh PCNU Jember dan kini diterbitkan ulang Khalista Surabaya dengan judul NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran (2006-2007).
  5. Buku Mengenal Nahdlatul Ulama diterbitkan oleh Masjid Sunan Kalijaga pada cetakan satu hingga ketiga. Kemudian untuk cetakan selanjutnya buku ini diterbitkan oleh Khalista Surabaya (2004).