Biografi Mbah Mangli (KH. Hasan Asy’ari)

 
Biografi Mbah Mangli (KH. Hasan Asy’ari)

Daftar Isi Profil Mbah Mangli (KH. Hasan Asy’ari)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Mursyid Tariqat
  7. Menyebarkan Agama Islam
  8. Karomah

Kelahiran

KH. Muhammad Bahri atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Hasan Asy’ari atau Mbah Mangli lahir di Kediri, Jawa Timur pada hari Jumat legi, 17 Agustus 1945 pukul 02.00 malam. Mbah mangli merupakan putra bungsu dari Muhammad Ishaq, yang menurut silsilahnya masih keturunan dari Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati Sedangkan dari garis ibu, Mbah Mangli merupakan keturunan dari KH. Ageng Hasan Besari yang juga masih keturunan Sunan Kalijaga.

Wafat

Mbah Mangli wafat pada akhir tahun 2007 makam beliau di Dusun Mangli, Ngablak, Kabupaten Magelang.

Keluarga

Mbah Mangli melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj. Ning Aliyah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai satu putra dan tiga putri, diantaranya:

  1. Gus Thohir
  2. Nimaunah
  3. Nimaiyah
  4. Nibariyah

Pendidikan

Mbah Mangli memulai pendidikannya kepada Ayahnya. Beliau disiplin pendidikan yang ketat dan sangat keras. Diantara yang diajarkan ayahnya adalah menghafal kitab Taqrib dan maknanya, serta mempelajari tafsir al-Qur’an baik makna maupun nasakh mansukh-nya.

Mendirikan Pesantren

Pada 1959, Mbah Mangli mendirikan pondok pesantren salafiyah namun tidak memberikan nama resmi. Lambat laun pondok tersebut dikenal dengan nama Pondok Pesantren Mangli dan sosok Hasan Asy’ari dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli. Nama ini diberikan masyarakat karena ia menyebarkan Islam dengan basis dari Kampung Mangli, desa Girirejo, kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang

Selain mendidik umat lewat pesantren, Mbah Mangli juga aktif melakukan dakwah dan syiar Islam ke berbagai wilayah. Di desa Mejing, kecamatan Candimulyo, bahkan Mbah Mangli secara khusus menggelar pengajian rutin bertempat di sebuah langgar atau surau yang dikenal sebagai langgar Linggan.

Berbagai kalangan umat Islam datang berbondong-bondong untuk mendengarkan nasihat dan petuah kiai kharismatik tersebut dengan penuh kekhidmatan. Apabila mengadakan pengajian, Mbah Mangli tidak pernah menggunakan pengeras suara, tetapi dari ribuan jemaah tak satu pun yang tak mendengar suaranya.

Mursyid Tariqat

Mbah Mangli merupakan mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang didirikan oleh Syekh Achmad Khotib al-Syambasi. Selain itu, Mbah Mangli juga merupakan pengikut Tarekat Alawiyyah. Ia sering mengikuti Maulid Nabi Muhammad di Masjid ar-Riyyadh, Pasar Kliwon, Surakarta pimpinan Habib Anis bin Alwi al-Habsyi. Adapun wiridan wajib di Pondok Pesantren Mangli adalah rotib Alhadad, rotib Alatas dan rotib syakron yang sampai sekarang masih dilaksanakan.

Menyebarkan Agama Islam

Ini tak terlepas dari sosok kharismatik Mbah Mangli yang menyebarkan Islam di lereng pegunungan Merapi, Merbabu, Andong dan Telomoyo.

Mbah Mangli-lah yang berhasil mengislamkan kawasan yang dulu menjadi markas para begal dan perampok tersebut. Pada masa itu daerah tersebut dikuasai oleh kelompok begal kondang bernama Merapi Merbabu Compleks (MMC).

Karomah

Mbah Mangli dikaruniai karomah ”melipat bumi” yakni bisa datang dan pergi ke berbagai tempat yang jauh dalam sekejap mata. Di sisi lain, beliau dikenal sebagai seorang yang memiliki kemampuan psikokinesis tinggi.

Berdasar cerita yang beredar di masyarakat, KH. Hasan Asy’ari atau lebih dikenal dengan nama Mbah Mangli, bisa mengisi pengajian di beberapa tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Ia bisa mengisi pengajian di Mangli, namun pada saat bersamaan juga mengaji di Semarang, Wonosobo, Jakarta, dan bahkan Sumatra.

Baca juga: Mbah Mangli Ulama Pelipat Bumi

Ia juga tidak memerlukan pengeras suara (loud speaker) untuk berdakwah seperti halnya kebanyakan kiai lainnya. Padahal, jamaah yang menghadiri setiap pengajian Mbah Mangli mencapai puluhan ribu orang.