Biografi Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar

 
Biografi Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar
Sumber Gambar: Koleksi Laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, satu dari tujuh fuqaha Madinah, yang paling utama ilmunya pada zamannya, paling tajam kecerdasan otaknya, dan paling bagus sifat wara’nya. Nama lengkap beliau adalah Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiq At-Taimi Al-Qurasyi, Al-Madani Al-Faqih.

Contents

 

Baca juga:     Biografi Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.

Riwayat Hidup

Lahir

Al-Qasim bin Muhammad lahir pada akhir masa khilafah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau merupakan cucu Al-Khalifah Ar-Rasyid Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, saahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sekaligus manusia terbaik di muka bumi setelah wafatnya Rasulullah.

Keluarga

Ayah beliau adalah Muhammad bin Abu Bakar ash-Shidiq, ibunya adalah putri Yazdajir, raja Persia yang terakhir. Sedangkan bibinya dari pihak ayah adalah Aisyah, Ummul Mukminin. Sejak ayahnya meninggal, beliau hidup dalam keadaan yatim di bawah asuhan dan didikan bibinya, yaitu Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dikatakan oleh para ulama sebagai orang yang paling berilmu ketika itu.

Beliau memiliki saudara:

  1. Abd-Allah bin Muhammad
  2. Zainab binti Muhammad
  3. Ruqayyah binti Muhammad
  4. Ummu Kultsum binti Muhammad
  5. Fathimah binti Muhammad
  6. Ibrahim bin Muhammad

Wafat

Beliau wafat pada umur 72 tahun tahun 106H atau 724M di zaman kekhalifahan Yazid bin Abdil Malik bin Marwan, ketika melakukan perjalanan ke Makkah Al-Mukaramah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Beliau dikebumikan di pekuburan Jannatul Mu'alla, Makkah, Saudi Arabia.

Pendidikan

Menginjak remaja, cucu Abu Bakar ini telah hafal Kitabullah dan menimba hadis-hadis dari bibinya, Aisyah. Dia tekun mendatangi al-Haram an-Nabawi dan duduk dalam halaqah-halaqah ilmu yang terhampar di setiap sudut-sudut masjid.

Guru yang sering beliau hadiri majlisnya antara lain dan meriwayatkan hadits dari:

  1. Aisyah
  2. Ibnu Abbas
  3. Muhammad bin Abi Bakar (ayahnya)
  4. Abu Hurairah
  5. Abdullah bin Umar
  6. Abdullah bin Abbas
  7. Abdullah bin Zubair
  8. Abdullah bin Ja’far
  9. Abdullah bin Khabbab
  10. Rafi’ bin Khudaij
  11. Aslam pembantu Umar bin Khathab dan sebagainya.


Baca juga:   Biografi Sulaiman bin Yasar Al-Hilali Al-Madani

Penerus

Dan adapun para muhadditsun yang meriwayatkan dari beliau di antaranya:

  1. Abdurrahman (anak)
  2. Asy-Sya’bi
  3. Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar
  4. Yahya bin Sa’id Al-Anshari
  5. Ibnu Abi Mulaikah
  6. Nafi’ maula Ibni ‘Umar
  7. Az-Zuhri
  8. Ayyub As-Sakhtiyani
  9. Ibnu ‘Aun
  10. Rabi’ah
  11. Abu Az-Zinad, dan masih banyak lagi.

Teladan

Rajin Mengajar

Setelah sempurna perlengkapan ilmu pemuda yang merupakan cucu Abu Bakar ini, orang-orang banyak belajar kepadanya dengan penuh perhatian. Beliau tak pernah absen untuk pergi ke Masjid Nabawi setiap hari, lalu shalat dua rakaat tahiyatul masjid kemudian duduk di bekas tempat Umar radhiyallahu ‘anhu di Raudhah, yakni tempat antara kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mimbarnya. Selanjutnya berkumpullah murid-muridnya dari segala penjuru untuk menimba ilmu dari sumber yang segar dan bersih, melegakan jiwa-jiwa yang haus akan ilmu.

Dua Imam Madinah

Qasim bin Muhammad dan putra bibinya, Salim bin Abdullah bin Umar, menjadi dua imam Madinah yang terpercaya. Keduanya menjadi tokoh yang ditaati dan didengar tutur katanya kendati keduanya tidak memiliki jabatan ataupun kekuasaan. Masyarakat mengangkat keduanya karena sifat takwa dan wara’nya. Juga karena ilmu dan pemahamannya, ditambah lagi karena sifat zuhudnya terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta berharap banyak hanya pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menjadi Rujukan Khalifah

Martabat keduanya mencapai puncaknya hingga khalifah-khalifah Bani Umayah dan para bawahannya hormat kepadanya. Penguasa-penguasa tersebut tidak pernah memutuskan suatu masalah yang pelik kecuali setelah mendengarkan pendapat kedua ulama tersebut, termasuk ketika al-Walid bin Abdul Malik berkeinginan untuk memperluas al-Haram an-Nabawi. Rencana ini tidak bisa dilaksanakan tanpa membongkar masjid yang lama pada keempat arahnya dan menggusur rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk perluasan.

Keilmuan, Ibadah, dan Akhlak Beliau

Beliau pernah mengatakan: “‘Aisyah adalah seorang mufti wanita dari zaman Abu Bakar, Umar, Utsman dan seterusnya sampai ia meninggal. Aku senantiasa bersimpuh menimba ilmu darinya dan juga duduk belajar kepada Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan Ibnu Umar”.

Beliau adalah seorang alim yang menunjukkan sifat wara’ dan keutamaan. Bahkan karena kehati-hatiannya dalam berfatwa, ia mengatakan: “Seseorang hidup dengan kebodohan setelah mengetahui hak Allah, lebih baik baginya daripada ia mengatakan sesuatu yang ia tidak mengetahuinya (berfatwa tanpa ilmu).” Sehingga Al-Imam Malik mengatakan bahwa beliau adalah seorang alim yang sedikit dalam memberikan fatwa.

Beliau juga dikenal sebagai seorang alim yang memiliki sifat tawadhu’. Ibnu Ishaq menceritakan: “Aku melihat Al-Qasim mengerjakan shalat, kemudian datanglah seorang badui kepada beliau dan mengatakan: ‘Siapa yang lebih berilmu? Engkau atau Salim?’ Maka Al-Qasim mengatakan: ‘Subhanallah.’ Terus beliau mengulang-ulang kalimat ini. Kemudian beliau mengatakan: ‘Itu adalah Salim, tanyakanlah kepadanya’.”

Ibnu Ishaq mengatakan: “Al-Qasim tidak suka kalau mengatakan: ‘aku lebih berilmu daripada Salim’ karena hal itu termasuk memuji diri sendiri, dan beliau juga tidak suka kalau mengatakan: ‘Salim lebih berilmu’ karena berarti dia telah berdusta. Kemudian Ibnu Ishaq mengatakan: “Dan Al-Qasim adalah lebih berilmu daripada Salim.”

Sebelum meninggal, Al-Qasim berwasiat kepada salah seorang anaknya: “Ratakanlah kuburku dan taburilah dengan tanah, serta janganlah kamu menyebut-nyebut keadaanku demikian dan demikian.” Abdurrahman bin Al-Qasim (anaknya sendiri) pernah mengatakan: “Beliau adalah manusia paling utama di zamannya.”

Yahya bin Sa’id berkata: “Kami tidak melihat seorang pun di Madinah yang lebih kami utamakan daripada Al-Qasim.”

Abu Az-Zinad berkata: “Aku tidak melihat seorang yang lebih tahu tentang As-Sunnah daripada Al-Qasim bin Muhammad, dan aku juga melihat tidak ada seorang pun yang lebih jenius daripada dia.”

Imam Daril Hijrah Malik bin Anas mengatakan: “Al-Qasim adalah salah seorang di antara Fuqaha’ umat ini.”

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan: “Orang yang paling mengetahui hadits (riwayat dari) ‘Aisyah ada tiga: Al-Qasim bin Muhammad, ‘Urwah bin Az-Zubair, dan ‘Amrah bintu ‘Abdirrahman.”

Ibnu Hibban mengatakan: “Beliau adalah termasuk tokoh tabi’in dan orang yang paling utama di zamannya dari sisi keilmuan, adab, dan fiqh.”

Baca juga:  Biografi Kharijah bin Zaid bin Tsabit

Sumber:

  • Al-Bidayah Wan Nihayah
  • Mereka adalah Para Tabi’in
 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya