Ziarah Makam KH. Abdul Hamid Pasuruan

Memperoleh Donasi Sebesar : Rp 0. Donasi Sekarang
 
Ziarah Makam KH. Abdul Hamid Pasuruan
Sumber Gambar: FB Agung Harianti Zazg

Laduni.ID, Jakarta – KH Abdul Mu’thi atau akrab dikenal dengan KH Abdul Hamid Pasuruan merupakan seorang waliyullah, ulama besar yang lahir pada tahun 4 Muharram 1333 H./22 November 1914 M di Dukuh Sumurkepel, Desa Sumbergirang, di tengah kota Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Beliau juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan, di bawah asuhan KH Abdul Hamid, Pesantren Salafiyah mampu berkembang dan hingga saat ini memiliki santri yang jumlahnya mencapai ribuan.

Sejak kecil KH Abdul Hamid telah menunjukkan tanda-tanda kewalian, misalnya saat menunaikan haji Bersama kakeknya KH Shiddiq, beliau bertemu dengan Rasulullah SAW. Selain itu, beliau juga diberikan karomah oleh Allah mengetahui suatu hal sebelum terjadi.

KH Abdul Hamid juga menjadi panutan umat muslim, khususnya masyarakat Pasuruan, akhlaknya yang mulia memendapatkan tempat terbaik di hati umat Islam.

KH Abdul Hamid Pasuruan wafat pada Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M. Sebelumnya beliau dilarikan ke Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang dideritanya. Namun beliau menghembuskan napas terakhir tepat pukul 03.00 WIB di usia 70 tahun menurut hitungan tahun Hijriah.

Lokasi Makam

Beliau dimakamkan di belakang Masjid Agung Al-Anwar Pasuruan, tepatnya di kompleks pemakaman wali dan ulama Kota Pasuruan. Di komplek tersebut juga dimakamkan para ulama Pasuruan lainnya, makam dari para Bupati Pasuruan terdahulu, keluarga ulama, serta takmir masjid. Salah satu ulama besar yang dimakamkan di kompleks tersebut ialah Habib Ja'far bin Syaikhon Assegaf.

Komplek tersebut dekat dengan alun-alun Kabupaten Pasuruan, dan komplek pemakaman yang terselip di dalam gang dengan lebar sekira 2 meter. Dilansir dari IDN Times Jatim, para peziarah yang datang bisa mencapai hingga ribuan jamaah, belum lagi waktu-waktu tertentu seperti malam Jumat, malam Sabtu, dan malam Minggu jamaah yang hadir berasal dari penjuru Indonesia, bahkan luar negeri.

Berbeda dengan situs religi lainnya, di komplek makam KH Abdul Hamid diperlakukan berdasarkan jenis kelamin. Peziarah wanita tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah utama, mereka dapat berziarah sembari mengintip dari balik jendela yang ditutup jeruji besi.

Selain itu, para peziarah juga dilaran untuk memberikan uang jasa kepada juru kunci (petugas makam). Adapun kotak amal yang disediakan oleh pihak Yayasan hanya untuk amal jariyah peziarah, petugas makam juga tidak akan meminta serta menerima uang dari para peziarah, sebab mereka bekerja secara ikhlas.

Sumber gambar: FB Ma’had Nurul Anwar, Twitter @EkoDcs, WartaBromo


Editor: Daniel Simatupang